Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2015

Menggadaikan Kerajaan (Riau)

Dahulu kala ada sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Tiangkerarasen. Negeri itu aman dan tentram karena sang raja memerintah dengan bijaksana. beliau mempunyai beberapa orang putera dan puteri dari seorang permaisuri yang cantik jelita.
    Namun ketentraman dan kebahagiaan keluarga itu tak berlangsung lama. Pada suatu hari, raja berjalan-jalan dengan menunggang kuda kesayangannya. ditengah perjalanan ia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita. setelah berkenalan,raja mengajak gadis itu pulang ke istana. Gadis itu selain cantik ternyata mempunyai perangai yang lembut dan tutur kata yang halus. Raja jatuh cinta dan menikahi gadis tersebut. Tindakan raja ini ditentang oleh permaisuri dan putera-puterinya. Namun raja terlalu mencintai gadis itu.

    Setelah beberapa bulan berlalu, gadis yang telah menjadi isteri muda raja itupun hamil. Permaisauri dan putera-puterinya makin marah. Mereka betul-betul menunjukan sikap benci pada raja.  Putera-puterinyapun sudah mulai berani melawan. Keadaan ini sangat menekan sang raja. Lalu terpikir oleh sang raja untuk menyingkirkan isteri mudanya.
    Pada suatu hari raja mengajak isteri mudanya berjalan-jalan di hutan. Keduanya menyusuri sebuah sungai yang besar dengan perahu. Ketika sang isteri sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba sang raja mendorongnya ke sungai. Isterinyapun sangat terkejut, lalu berteriak minta tolong. Sebenarnya hati sang raja sangat iba, tetapi apa boleh buat ia ingin mengakhiri hubungannya yang tegang dengan permaisuri dan putera-puterinya.
    Sementara itu di hilir sungai seorang pengail melihat perempuan hanyut. Ia segera menyelamatkannya.
Bulan berganti tahun, Putera raja yang lahir dari isteri muda telah berangkat remaja. Ibunya memberi nama Aji Bonar. Pemuda itu mempunyai kegemaran bermain gasing dan mengail. Suatu hari ia ingin pergi ke negeri Tiangkerarasen.Sebab ia mendengar kabar bahwa putera raja Tiangkerarasen suka bermain gasing dengan taruhan. Suatu hari ia bisa bermain gasing dengan putera raja.Gasing Aji Bonar menang dan berhasil membawa pulang ayam jago taruhannya. Kemenangan Aji membuat putera raja makin penasaran, lalu ia bertaruh yang lebih besar lagi.
    Begitulah taruhan itu terjadi berulang-ulang. dari taruhan yang kecil sampai taruhan sebuah rumah yang besar lengkap dengan isinya, dan slalu di menangkan oleh Aji Bonar. Kekalahan putera raja tak membuatnya jera justru ia makin penasaran dan bertakad dapat mengalahkan gasing Aji Bonar.
    Suatu hari putera raja mengumpulkan seluruh rakyat negeri Tiangkerarasen di gelanggang permainan gasing. Tak lupa ia mengundang Sang raja, ayahnya. Setelah semua berkumpul, putera raja berseru:
    "Hai rakyatku, hari ini aku mempertaruhkan negeri ini beserta isinya kepada si Aji Bonar. Jika ia kalah, ia akan mengembalikan seluruh kemenangannya yang diperoleh dariku. Jika aku yang kalah maka negeri ini akan kuberikan padanya. Ia akan memerintah seluruh negeri ini. Apakah kalian setuju?"
   "Setujuuuuuuu!!!!", jawab yang hadir serentak.
    Tak lama kemudian pertandingan dimulai. Seluruh hadirin bersorak-sorai menjagokan pilihan masing-masing. Gasing Aji Bonar berputar-putar cepat sekali dan dengan cepat pula mematikan gasing putera raja. Sorak sorai gemuruh menyambut kemenangan gasing Aji Bonar. Hari itu juga Aji Bonar menjadi raja negeri itu.
    Beberapa hari kemudian ia menjemput ibunya dengan pasukan kerajaan. Seluruh negeri menyaksikan iring-iringan itu. juga putera raja yang kalah bertaruh, disampingnya berdiri sang raja semula. Sang raja merasa sangat malu, sebab putera yang di sayangnya telah menggadaikannya. sedang putera yang dibuangnya telah menjadi raja.

sumber: http://cerita-dan-dongeng.blogspot.com/2011/09/menggadaikan-kerajaan-riau.html

Pengorbanan Ibu (Maluku)

Kisah ini bermula di daerah Maluku Utara, tepatnya di daerah Tobelo. Beratus tahun yang lalu di suatu rumah yang berdindingkan daun rumbia hiduplah satu keluarga. Sang ayah seorang nelayan yang siang dan malam hidupnya diatas lautan, mempertaruhkan nyawa untuk menghidupi anak isterinya.
sang isteri adalah wanita setia dan sangat bijaksana. Mereka memiliki dua orang anak. yang sulung anak perempuan bernama O bia Moloku, kecantikannya melebihi ibunya. Sedangkan adiknya yang laki-laki bernama O Bia Mokara, ganteng  seperti ayahnya.


    Pada suatu hari ayah mereka pergi melaut dan seperti biasa sebelum ayah mereka bertolak ke laut, tak lupa ditinggalkannya makanan dan telur ikan pepayana di rumahnya.
Beberapa hari setelah kepergian ayahnya melaut, ibunya pergi ke kebun. Sebelum pergi ibunya berpesan kepada adik kakak itu."Hai anak-anakku,..jangan kamu makan telur ikan yang ditinggalkan ayahmu ini. Apabila kamu memakannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
 ibunya berkata sungguh-sungguh tapi mereka hanya tertawa saja.Setelah ibunya selesai memberi nasehat maka pergilah ia ke kebun.
Setelah tiga jam berlalu, adiknya, O Bia Mokara merasa lapar. dimintanya makanan dan telur ikan, sang kakak tak mau memberikannya sampai Mokara menangis tersedu-sedu. rupanya tak tega Moloku melihat adiknya yang menangis tak henti-henti dan telur ikan di berikan pada mokara. Sambil tertawa Mokara memakan telur itu dengan lahapnya.
    Tak lama kemudian ibunya kembali dari berkebun membawa singkong, pepaya, dan sayur-sayuran. Setelah selesai membersihkan badannya, ibupun menggendong Mokara.Namun ayunan ibupun terhenti tiba-tiba saat melihat sisa-sisa telur yang melekat pada gigi Mokara.Iapun tertegun dan tubuhnya menjadi dingin gemetar dan marah sekali pada kedua anaknya.Segera ia melepaskan Mokara dan melarikan diri menyusuri pesisir pantai. Sambil menggendong Mokara yang menangis terus, Moloku mengejar ibunya sambil memangil-mangil.."mama..mama, O Bia Mokara menangis terus mama...." Namun panggilannya hanya dijawab oleh mamanya." Peras saja daun katang-katang, ada air susunya!...".
Setelah tiga kali Moloku memberikan air susu dari daun katang-katang itu, sang ibupun menerjunkan diri ke laut.
tak lama menyelam iapun menemukan sebuah batu yang timbul. Naiklah ia ke atas batu itu dan berkata: " Terbukalah agar aku dapat masuk". Batu itu terbuka dan iapun masuk kedalamnya. Dengan segera ia berteriak. "Tutuplah.."
maka batu itupun tertutup selamanya tanpa bekas...

Penjaga Gunung (Sulawesi Utara)

  Legenda ini berhubungan dengan adanya dua buah gunung yang berhadapan jauh. Gunung yang terletak di sebelah timur bernama Kamonsope. Masing-masing terdapat di Labundoua dan di Kabaena,
    Dahulu, Gunung Saba Mpolulu itu di sebut gunung mata air. Air milik penjaga gunung Kamonsope diminta oleh penjaga gunung Saba Mpolulu. tetapi,penjaga gunung Komensope tidak mau memberikan air itu. Meskipun begitu, penjaga gunung Saba Mpolulu tetap berupaya memiliki air itu. Maka ia tetap mencari jalan walaupun dengan cara paksa.penjaga gunung Kamonsope tetap juga bertekad tidak mau mundur selangkahpun, walau untuk itu ia harus mengorbankan nyawanya.

    Penjaga gunung saba Mpolulu berpikir sejenak, dalam hatinya, "Sesungguhnya aku ini laki-laki, sedangkan penjaga gunung Kamonsope seorang perempuan, masa aku dikalahkan perempuan. lebih baik aku paksa dia.". Namun segala siasat dan usahanya hanya sia-sia belaka. Walau penjaga gunung Kamonsope seorang perempuan, namun ia berpendirian teguh dan mati-matian mempertahankan haknya. Penjaga gunung perempuan itu tidak mau menyerah begitu saja. Penjaga gunung Saba Mpolulu bertambah marah melihat kenyataan ini.
    Karena segala perundingan tak membuahkan hasil, maka penjaga Saba Mpolulu mengangkat senjata hendak berperang melawan penjaga Kamonsope. Tembakan semacam meriam yang dilontarkan penjaga Saba selalu meleset yang membuatnya bertambah kesal.
    Kini giliran penjaga Kamonsope yang menembak, hanya sekali menembak langsung mengenai sasaran. nyaris gunung terbongkar puncaknya seperti bentuk kampak yang terpongkah akibat terkena benda keras. itu sebabnya gunung tersebut dinamakan gunung Saba Mpolulu.
     Kekerasan dan paksaan itu sebenarnya tidak memberikan manfaat. akibatnya menimbulkan perpecahan diantara sesama. jalan penyelesaian suatu pertikaian adalah penyelesaian secara kekeluargaan. jika tidak, harus diadakan musyawarah untuk mufakat. sebab jika terjadi perselisihan orang-orang besar rakyat kecillah yang akan menanggung kerugiannya.


sumber: http://cerita-dan-dongeng.blogspot.com/2011/07/penjaga-gunung-sulawesi-utara.html

Batu Keramat ( Dari Irian Jaya)


  Didaerah Yapen Timur, tepatnya daerah Wawuti Revui, terdapat sebuah gunung bernama Kamboi Rama.

Masyarakat berkumpul dan berpesta di gunung itu. Di gunung itu juga tinggal seorang raja tanah atau dewa bernama Iriwonawai. Dewa itu memiliki sebuah tifa atau gendang yang diberi nama sokirei atau soworoi. Jika gendang itu berbunyi, orang-orang akan berdatangan dan berkumpul karena pada kesempatan itulah mereka dapat melihat gendang itu. Akan tetapi, yang dapat melihat gendang itu hanya orang-orang tua berkekuatan gaib.


   Dewa Iriwonawai mempunyai sebuah dusun yang banyak ditumbuhi tanaman sagu, yaitu dusun Aroempi. Sagu merupakan makanan pokok penduduk daerah Wawuti Revui. Akan tetapi, sagu itu lama kelamaan berkurang. Dewa marah. Kemudian tanaman sagu itu dipindah. Penduduk dusun Kamboi Rama ketakutan, mereka pindah ke daerah pantai. Disana mereka mendirikan daerah baru yang diberi nama Randuayaivi. Setelah itu, di Kamboi Rama hanya tinggal Iriwonawai dan sepasang suami istri bernama Irimiami dan Isoray.

   Pada suatu pagi, Isoray duduk di atas batu untuk berjemurdiri. Beberapa saat kemudian batu yang didudukinya itu mengeluarkan gumpalan awan panas sehingga dia tidak tahan duduk di atas batu itu. Kemudian Irimiami menduduki batu itu. ternyata hal yang sama terjadi. Setelah itu, Irimiami mengambil daging rusa dan meletakkannya di atas batu itu. Tak lama kemudian, daging rusa itu diangkat dan dimakan. Ternyata daging rusa itu terasa lebih enak. Sejak itu Irimiami dan Isoray selalu meletakkan makanan di atas batu itu.

   Pada suatu hari, Irimiami dan Isoray menggosok buluh bambu di batu itu. Tak lama kemudian buluh bambu putus dan gosokan buluh bambu mengeluarkan percikan api. Irimiami dan Isoray heran dan mereka mulai mengadakan percobaan di atas batu itu.

   Keesokan harinya, mereka mengumpulkan rumput dan daun kering dan diletakkan di atas batu tsb. Tak lama kemudian, rumput dan daun itu mengeluarkan gumpalan awan seperti pernah mereka lihat. Pada saat itu mereka mulai memuja batu itu dan menamakannya BATU KERAMAT.

   Pada siang hari, ketika matahari memancarkan sinarnya, mereka mencoba meletakkan rumput, daun dan ranting bambu di batu itu. menunggu apa yang akan terjadi. Ternyata keluarlah awan merah yang sangat panas. Mereka ketakutan dan memohon pada dewa Iriwonawai agar memadamkan awan merah itu. Permohonan mereka terkabul, awan merahpun padam.

   Hari berikutnya mereka mengumpulkan rumput, daun dan kayu lebih banyak dan seperti biasa di letakkan di atas batu keramat. Asap tebal mengepul di puncak Gunung Kamboi Rama selama enam hari. Gendangpun berbunyi, masyarakat berkumpul ingin menyaksikan gendang soworoi.

   Irimiami dan Isoroy sangat ketakutan. Tak henti-hentinya mereka memohon agar kepulan asap tebal itu menghilang. Dewa Iriwonawai mengabulkan. Setelah awan menipis, penduduk kampung Randuayaivi ingin melihat lebih dekat, ternyata perbuatab itu tidak dilakukan oleh Dewa tapi dilakukan Irimiami dan Isoroy.

   Irimiami dan Isoroy menyambut baik kedatangan penduduk dan merekapun menceritakan peristiwa asal muasal ditemukannya batu keramat. Penduduk tercengang mendengar cerita mereka apalagi setelah mencicipi makanan yang dipanaskan di atas batu itu. Oleh karena itu Suami istri itu ingin supaya diadakan pesta adat.

   Keesokan harinya.pesta adat dimulai.Penduduk kampung berkumpul membawa perbekalan seperti sagu, keladi, daging dan makanan lainnya. Mereka berkumpul mengelilingi batu keramat sambil meletakkan rumput diatasnya. Tak lama kemudian, keadaan sekitar Gunung Kamboi Rama menjadi sangat cerah dengan sinar api yang keluar dari batu keramat.

   Pesta adat berlangsung selama tiga hari. Irimiami dan Isoroy memerintahkan penduduk untuk menari mengelilingi batu itu sambil memuja.

   Inilah legenda masyarakat Irian Jaya yang sampai sekarang mengeramatkan batu api penemuan Irimiami dan Isoroy dan pendudukpun percaya bahwa suami istri itulah yang pertama menemukan api. Setahun sekali dilakukan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu

sumber: http://cerita-dan-dongeng.blogspot.com/2011/08/batu-keramat-dari-irian-jaya.html

Sawunggaling (Jawa Timur)

 Jaka Berek baru saja pulang dari bermain dengan teman-temannya. Ia marah, penasaran bukan kepalang karena teman-temannya selalu mengejek bahwa ia tak punya ayah sah alias anak haram.
Sesampai di rumah, Jaka Baerek segera menjumpai ibunya yang saat itu sedang berkumpul dengan kakek dan neneknya.
” Biyung (Ibu), aku tak tahan lagi,” ujar Jaka
” Ada apa, Anakku ? Kenapa wajahmu cemberut begitu?” tanya ibu Jaka-Dewi Sangkrah.
”Biyung harus menjelaskan, siapakah sebenarnya ayahku?..Kalau sudah meninggal dimana kuburnya biar aku mengirim do’a di pusaranya, dan jika masih hidup, sudilah ibu menunjukkan tempatnya padaku.”rengek Joko pada Ibunya.

Hati Dewi sangkrah berdebar, Ia sudah menduga hal ini akan terjadi.Tak bisa tidak dia harus menjawabnya dengan gamblang.
”Anakku Jaka Berek, karena kau telah dewasa, sudah sepatutnya kau bertanya tentang ayahmu. Ketahuilah anakku, ayahmu adalah seorang adipati di Kadipaten Surabaya. Namanya Jayengrana. Bila ingin bertemu dengannya datanglah kesana.”
   Dengan bekal seadanya, Jaka Berek berangkat ke Kadipaten Surabaya untuk menjumpai ayahnya. Ketika hendak memasuki pintu gapura kadipaten,Jaka Berek dicegat oleh seorang prajurit yang sedang berjaga.
”Berhenti kamu!” teriak prajurit itu. ”mau apa berani datang ke kadipaten ini?”
”Saya ingin bertemu dengan sang adipati..”jawab Jaka dengan wajahnya yang polos sebagaimana kebanyakan pemuda desa.
”anak muda ketahuilah aku adalah prajurit yang sedang berjaga. Kau tidak boleh masuk ke kadipaten.kau harus pergi dari sini sebelum kuusir..”bentak prajurit itu.
”aku tak mau pergi sebelum bertemu dengan Adipati Jayengrana,jawab Jaka Berek.
Prajurit penjaga itu jengkel melihat Jaka Berek yang tak mau pergi.Maka iapun menyerang Jaka Berek agar segera pergi, tetapi Jaka Berek bukannya pergi malah melawan dengan berani. Untunglah perkelahian itu diketahui oleh dua orang putera Adipati Jayengrana yang bernama Sawungsari dan Sawungrana.oleh mereka perkelahian itu dilerai.
”Maaf pangeran, pemuda ini hendak memaksa masuk kadipaten.saya halang-halangi tetapi dia malah melawan.”lapor prajurit itu.
Mendengar laporan dari prajuritnya keduanya bertanya pada Jaka Berek,
”Maaf, siapakah saudara dan ada keperluan apa hendak memaksa masuk kadipaten?”tanya Sawungrana.
”Aku hendak menghadap Adipati Jayengrana. Ada yang ingin ku sampaikan kepada beliau.”
”Tak ada orang luar yang boleh menemui ayahku. Sebaiknya kau pulang saja atau aku yang memaksamu pulang ..”kata Sawungsari.
Aku tetap pada pendirianku, mau menemui Adipati Jayengrana!..”tegas Jaka Berek.
Melihat kenekatan Jaka, kedua putera Adipati itupun segera mengeroyoknya, dengan tangkas Jaka Berek melawan.
Belum lama perkelahian itu, Adipati Jayengrana keluar dan melihatnya dan iapun segera menghampiri.
”Hei..hentikan perkelahian ini!”teriaknya.Adipati menanyakan hal ihwal perkelahian, kedua puteranyapun menjelaskan secara terperinci.
”Kamu yang bernama Jaka Berek yang mau menemuiku, sekarang katakan apa keperluanmu?”
”Hamba hanya ingin mencari ayah hamba yang menjadi adipati di sini yang bernama Adipati Jayengrana.kalau memang tuan orangnya,tentu tuanlah ayah hamba.”
”Nanti dulu. Siapa nama ibumu dan apa buktinya kalau kau memang anakku?”
”Hamba adalah putera dari Biyung Dewi Sangkrah. Sebagai buktinya,ibu memberi hamba sebuah selendang Cinde Puspita ini.”Jaka Berek mengeluarkan selendang dari bungkusan yang dibawanya.
Ternyata benar selendang itu adalah selendang Cinde Puspita yang dulu oleh Adipati Jayengrana diberikan pada Dewi Sangkrah yang dicintainya.
”Kalau begitu kau memang anakku” Adipati memeluk Jaka Berek dan memperkenalkan Jaka pada saudaranya, Sawungrana dan Sawungsari.
Jaka Berekpun tinggal di kadipaten dan berganti nama menjadi Sawunggaling.
   Suatu hari Kadipaten Surabaya kedatangan kompeni belanda yang dipimpin oleh Kapten Knol yang membawa surat dari Jenderal De Boor yang isinya mengatakan bahwa kedudukan adipati di Surabaya akan dicabut karena Adipati Jayengrana tak mau bekerjasama dengan kompeni belanda. Tetapi pada saat itu,ada pengumuman bahwa di alun-alun Kartasura akan diadakan sayembara sodoran (perang tanding prajurit berkuda dengan bersenjata tombak) dengan memanah umbul-umbul yang bernama umbul-umbul Yunggul Yuda.
Adipati Jayengrana yang sudah dicabut kedudukannya itupun menyuruh kedua anaknya agar giat berlatih untuk mengikuti sayembara itu.
Pemenang dari sayembara itu akan diangkat menjadi adipati di Surabaya.
Pada hari sayembara diadakan, tanpa memberitahu Sawunggaling, Jayengrana dan kedua puteranya pergi ke Kartasura.dan tanpa setahu merekapun Sawunggaling juga pergi ke Kartasura. Sebelum berangkat Sawunggaling pulang ke desa meminta do’a restu dari ibu, kakek dan neneknya.
   Sayembara memanah umbul-umbul itu ternyata hanya diikuti oleh Sawungrana dan Sawungsari, tetapi keduanya gagal tak bisa menjatuhkan umbul-umbul Tunggul Yuda yang dipasang di Menara Galah. Karena tak ada pemenangnya, Sosra Adiningrat yang bertindak sebagai panitia pelaksana lomba, segera mengadakan pendaftaran lagi.
Pada saat itu ada seorang pemuda yang ikut mendaftar dan ternyata dialah Sawunggaling dan diapulalah satu-satunya yang bisa menjatuhkan umbul-umbul Tunggul Yuda. Dengan kemenangan ini selain diangkat menjadi adipati, Sawunggalingpun mendapatkan puteri dari Amangkurat Agung di Kartasura yang bernama Nini Sekat Kedaton.
   Keberhasilan sawunggaling itu membuat iri dua saudaranya.
Sawungrana dan sawungsari ingin mencelakakan sawunggaling, pada saat pesta besar-besaran untuk merayakan pengangkatan Sawunggaling sebagai adipati di Surabaya, secara diam-diam mereka memasukkan bubuk racun ke dalam gelas minuman Sawunggaling.namun perbuatan itu diketahui oleh Adipati Cakraningrat dari Madura.
Ketika  minuman itu disodorkan pada Sawunggaling,Adipati Cakraningrat pura-pura menubruk Sawunggaling yang mengakibatkan terjatuhnya gelas berisi racun itu. Melihat itu, Sawungrana sangat marah ”Dinda Sawunggaling, lihatlah ulah adipati dari Madura itu, dia tidak menghormatimu karena telah menjatuhkan minuman. Ini penghinaan ”
Dengan cepat, disambarnya tangan Adipati Cakraningrat dan ditariknya keluar dari kadipaten. ”mengapa paman menghinaku di hadapan para tamu. Apakah paman ingin menantangku berkelahi?” tanya Sawunggaling.
” tenang anakku, ketahuilah bahwa minuman yang hendak kau minum itu sebenarnya telah diberi racun oleh Sawungrana, aku melihatnya” Sawunggaling merasa menyesal telah tergesa-gesa menuduh Adipati Cakraningrat yang bukan-bukan.
”Dan semua itu memang telah direncanakan oleh para kompeni belanda. Kedua kakakmu telah bergabung dengan para kompeni karena menginginkan kedudukan sebagai adipati di Surabaya”jelas Adipati Cakraningrat.
   Sejak saat itu Sawunggaling bertekad memerangi belanda, dia selalu menambah kekuatan laskarnya. Dalam suatu peperangan yang sengit Sawunggaling berhasil membunuh Jenderal De Boor.
Akhirnya, karena menderita sakit parah, Sawunggaling meninggal dunia di daerah Kupang dan di makamkan di Lidah Wetan- Surabaya.

sumber: http://cerita-dan-dongeng.blogspot.com/2011/11/sawunggaling-jawa-timur.html

Asal Mula Candi Prambanan (Yogyakarta)

    Zaman dahulu ada sebuah kerajaan di Pengging. sang raja mempunyai seorang putera bernama Joko Bandung. Joko bandung adalah seorang pemuda perkasa, seperti halnya sang ayah, ia juga mempunyai berbagai ilmu kesaktian yang tinggi. bahkan konon kesaktiannya lebih tinggi dari ayahnya karena Joko bandung suka berguru kepada para pertapa sakti.

    Di Prambanan terdapat sebuah kerajaan, Rajanya bernama Raja Boko. sang raja mempunyai seorang puteri berwajah cantik bernama Roro Jongrang. Raja Boko bertubuh tingggi besar sehingga sebagian besar orang menganggapnya sebagai keturunan raksasa.
    Antara Kerajaan pengging dan Kerajaan prambanan terjadi peperangan. Pada mulanya Raja pengging kalah. tentara Pengging banyak yang mati di medan perang.
    Mendengar kekalahan pasukan ayahnya maka Joko Bandung bertekad menyusul pasukan ayahnya. dalam perjalanan, di tengah hutan, Joko Bandung bertemu dan berkelahi dengan seorang raksasa bernama Bandawasa. Menjelang ajal Bandawasa yang juga berilmu tinggi ini ternyata menyusup ke dalam roh Joko Bandung dan minta namanya digabung dengan pemuda itu sehingga putera Raja Pengging ini bernama Joko Bandung Bandawasa.
Joko bandung maju ke medan perang, selama berhari-hari pertarungan berlangsung, namun pada akhirnya pemuda itu dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Boko.
    Ketika Joko Bandung memasuki istana kaputren ia melihat Roro Jonggrang yang cantik jelita, Joko Bandung langsung jatuh cinta dan ingin memperisterinya, Namun Roro Jonggrang berusaha mengelak keingginannya karena Roro Jonggrang tahu bahwa pembunuh ayahnya adalaj Joko Bandung.
    Namun untuk menolak begitu saja tentu Roro jonggrang tidak berani, maka Roro Jonggrang mengajukan syarat, ia mau diperisteri oleh Joko Bandung asalkan Pemuda itu bersedia membuatkan seribu candi dan dua buah sumur yang sangat dalam dalam waktu satu malam.
    Menurut anggapan Roro Jonggrang pasti Joko Bandung tidak mungkin dapat memenuhi permintaan tersebut. Diluar dugaan Joko Bandung menyanggupinya. Joko Bandung Bandawasa yang sakti itu minta bantuan makhluk halus. Mereka bekerja keras setelah matahari terbenam, dan satu persatu candi yang diminta oleh Roro Jonggrang mendekati penyelesaian.
    Melihat kejadian tersebut, Roro Jonggrang heran karena bangunan candi yang begitu banyak sudah hampir selesai. Pada tengah malam sewaktu makhluk halus melanjutkan tugas menyelesaikan bangunan candi yang tinggal sebuah, Roro Jonggrang membangunkan gadis-gadis desa Prambanan agar menumbuk padi sambil memukul-mukulkan alu pada lesungsehingga kedengaran suara yang riuh. Ayam jantanpun berkokok bersahut-sahutan. Mendengar suara-suara tersebut, para makhluk halus segera menghentikan pekerjaannya. Disangkanya hari telah pagi dan matahari hampir terbit. 
    Permintaan Roro Jonggrang tidak dapat terpenuhi karena masih kurang satu bangunan candi. marahlah Joko Bandung, karena ulah dan tipu muslihat dari Roro Jonggrang.
    Waktu itulah Bandung mendekati Jonggrang dan berkata," Jonggrang..kau ini hanya mencari-cari alasan, kalau tidak mau jangan mencoba mengelabuhiku, kau ini keras kepala seperti batu!".
Seketika Roro Jonggrang berubah menjadi arca batu besar. Demikian pula para dara yang tinggal di desa Prambanan mendapat kutukan dari Bandung Bandawasa, tidak laku kawin sebelum mencapai usia tua.
    Candi yang dibuat makhluk halus meskipun jumlahnya belum mencapai seribu disebut candi sewu yang berdekatan dengan candi Roro Jonggrang. Maka candi Prambanan disebut juga candi Roro Jonggrang.


sumber: http://cerita-dan-dongeng.blogspot.com/2011/09/asal-mula-candi-roro-jongrang.html
 

Gina Maslahat. Design By: SkinCorner